Selamat Datang di Website BANK NTTSUKU BUNGA DASAR KREDIT (SBDK) : 1. KREDIT KORPORASI 10.99%, KREDIT RITEL 12.03%, KREDIT MIKRO 11.02%, KREDIT KONSUMSI (KPR) 10.95%, KREDIT KONSUMSI (NON KPR) 14.33% 

Terobosan CSR Bank NTT Jadi Contoh Implementasi SDGs

Implementasi CSR Bank NTT Jadi Contoh Realisasi SDGs

Pada tahun 2000 penduduk bumi mencapai fase pembabakan waktu seribu tahun kedua atau millennium. Dalam tahun tersebut seluruh perwakilan negara dunia mencapai kesepakatan tentang pemberlakuan agenda pembangunan bersama yang dikenal dengan istilah Millenium Development Goals (MDGs) di New York. Inisiatif dan kesepakatan yang diteken tersebut lahir dari seragamnya persoalan pembangunan yang dihadapi negara-negara di dunia.  Untuk itu setiap negara yang hadir kala itu memandang perlu adanya keseragaman konsep dan aksi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk bumi. Rentang periode pelaksanaan MDGs adalah 15 tahun sejak penandatangannya. Di tahun 2015 yang lalu pemberlakuan MDGs telah berakhir. Sedikit banyak Indonesia masih belum mencapai sasaran-sasaran dari program tersebut. Namun bukan berarti tidak ada upaya merealisasikan target-target agenda pembangunan bersama masyarakat dunia tersebut. Berbagai evaluasi dan usaha terus dilakukan pemerintah untuk membenahi kelemahan dan kekurangan. Di tahun 2016 ini masyarakat dunia memasuki agenda pembangunan bersama lima belas tahun kedua atau lebih lekat dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs). Ada 17 poin utama yang menjadi target pembangunan bersama negara dunia yaitu :

1.    Menghapus kemiskinan

2.    Mengakhiri kelaparan

3.    Kesehatan dan kesejahteraan

4.    Kualitas pendidikan yang baik

5.    Kesetaraan gender

6.    Air bersih dan sanitasi

7.    Akses ke energi yang terjangkau

8.    Pertumbuhan ekonomi

9.    Inovasi dan infrastruktur

10.  Mengurangi ketimpangan

11.  Pembangunan berkelanjutan

12.  Konsumsi dan produksi berkelanjutan

13.  Mencegah dampak perubahan iklim

14.  Menjaga sumber daya laut

15.  Menjaga ekosistem darat

16.  Perdamaian dan keadilan

17.  Revitalisasi kemitraan global

Mencapai ketujuh belas target pembangunan masyarakat dunia diatas bukanlah perkara mudah dalam rentang lima belas tahun kedepan. Dibutuhkan kerjasama seluruh elemen pembangunan baik pemerintah maupun swasta serta masyarakat untuk mewujudkannya. Melihat ketujuh belas program sasaran SDGs menggunakan kacamata Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan hal yang sangat urgent. Ketimpangan dan ketertinggalan NTT dalam berbagai aspek pembangunan sejalan dengan target yang hendak dicapai program SDGs. Sebagai lembaga jasa keuangan, Bank NTT tak sekedar mencatatkan laba di setiap tahun buku. Pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK) juga laba yang terus melejit dari tahun ke tahun tentunya akan sangat miris jika dikonfrontasikan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat NTT yang masih tertinggal dalam berbagai hal.  Beragam upaya dan sentuhan telah dan terus dilakukan Bank NTT agar agenda pembangunan masyarakat dunia jilid dua tersebut dalam ranah lokalitas NTT dapat tercapai. Melalui program Sustainable Corporate Social Responsibility (SCSR) dalam 7 bidang Bank NTT mencoba merealisasikan target pembangunan tersebut. Selain sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi regional, melalui ketujuh bidang program SCSR Bank NTT mencoba mendorong perkembangan masyarakat NTT ke arah yang lebih baik secara berkesinambungan. Ketujuh bidang yang menjadi perhatian Bank NTT dalam program tersebut adalah bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan olah raga.  

Apresiasi serta tanggapan terus datang dari berbagai pihak atas program yang diluncurkan Bank NTT sejak tahun 2014 tersebut. Salah satunya adalah dengan diundangnya Direktur Utama Bank NTT, Daniel Tagu Dedo, dalam acara bertajuk “ Peran Lembaga Jasa Keuangan dalam Pencapaian Sustainable Development Goals”  di Jakarta, Senin (8/8). Acara yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan United Nations Development Program (UNDP) itu sebagaimana tajuk acara tersebut mencoba mencari benang merah tentang peran dan fungsi lembaga jasa keuangan terkhususnya Bank Pembangunan Daerah dalam mewujudkan SDGs. Menurut pandangan kedua lembaga tersebut, Bank NTT merupakan salah satu contoh BPD yang selain berbisnis juga dapat memberikan multiplier effect bagi  perkembangan masyarakat.

Pada tahun 2016 ini Bank NTT menghadirkan terobosan baru dalam program SCSR nya. Salah satunya adalah melalui Government Co-Financing for Development : A Partnership between Bank NTT & UNDP. Collaborative initiatives diantara keduanya melahirkan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Air. Kedua proyek ini direncanakan akan dilaksanakan di Sumba Timur dan Manggarai Timur. Pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Solar Water Pump) yang akan dibangun di Sumba Timur nantinya akan digunakan untuk memompa air dari daerah dataran rendah untuk dialirkan ke daerah dataran tinggi. Proyek ini akan memberikan akses air bagi kurang lebih 500 warga  serta mengairi lahan produktif seluas 8 hektar sementara di Manggarai Timur, Pembangkit Listrik Tenaga Air Berkelanjutan (Sustainable Microhydro Power Generation) nantinya akan menghasilkan listrik yang akan digunakan oleh masyarakat di wilayah pedesaan. Pasokan listrik ini akan memberi manfaat bagi kurang lebih 350 keluarga rumah tangga, 1 unit Puskesmas serta 2 Industri rumah tangga. Program partnership ini telah ditandatangani oleh Direktur Utama Bank NTT Daniel Tagu Dedo serta Coordinator UNDP Indonesia  Mr.Douglas Broderick di Kantor Pusat UNDP Jakarta (31/3).

Kehadiran proyek penyediaan alternatif  listrik di wilayah NTT ini dapat mendorong pertumbuhan sektor lain baik pertumbuhan ekonomi, ketersediaan air bersih, kesehatan dan  pendidikan yang dapat mengatasi persoalan kemiskinan di NTT. Menurut Daniel Tagu Dedo, meningkatnya nilai tambah yang dihasilkan masyarakat dari program tersebut  akan memberi dampak pada Bank NTT. Pembukaan jaringan kantor hingga wilayah pelosok-pelosok NTT akan mubazir tanpa adanya intervensi seperti itu guna menciptakan kantong-kantong ekonomi dan bisnis baru. Tahap selanjutnya adalah dengan menggencarkan program Literasi Keuangan ketika aktivitas ekonomi dan bisnis mulai menggeliat. Dengan metode seperti itu selain berbisnis Bank NTT juga meletakkan fondasi awal bagi aktivitas ekonomi masyarakat ujarnya.

Dalam acara diskusi tersebut juga diadakan penandatanganan Letter of Intent antara OJK dengan UNDP sebagai langkah awal kesepakatan atas penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia melalui peran lembaga jasa keuangan. Penandatangan Lol dilakukan oleh ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Hadad dan Country Director UNDP Indonesia, Christophe Bahuet. (jr)

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

post1